Kamis, 02 Mei 2013

Niat, Sebuah Penentu Amal Ibadah

Menurut Imam Baidlawi, niat adalah ibarat sebuah gejolak hati untuk mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tujuan, baik dalam rangka ingin mencapai suatu manfaat atau menghindari suatu mudharat pada masa sekarang atau yang akan datang. Adapun menurut syara’, niat bisa diartikan sebagai sebuah keinginan untuk melakukan sesuatu dan mendapat ridha Allah.

Dari pengertian di atas, dapat diambil contoh, saat seseorang melangkah pergi ke masjid untuk shalat dan memang dalam hatinya ingin melakukan shalat, maka pada saat itulah orang tersebut bisa dikatakan sudah berniat shalat.

Niat sesungguhnya adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan lisan. Karenanya, yang tahu persis niat seseorang hanyalah dirinya sendiri dan Allah. Niat tidak bisa diukur dari ucapan lisan. Ucapan dalam bentuk kata-kata hanyalah sekadar sebagai ikrar, tidak lebih dari itu. Begitu pula niat tidak bisa diukur dari bentuk formalitas suatu pekerjaan.

Niat terletak dalam kehendak hati, bukan dalam wujud tindakan nyata. Niat tersembunyi di dalam qalbu, bukan terletak pada yang nampak mata. Jadi, niat termasuk sesuatu yang rahasia dimana hanya Allah dan pemilik niat itu sendiri yang mengetahuinya.

Dalam perspektif ilmu fikih, niat sangat berpengaruh dalam menentukan status amal perbuatan. Pengaruh niat terhadap status amal perbuatan setidaknya terlihat pada beberapa hal berikut ini :

1. Niat menjadi Syarat Mutlak Ibadah
Firman Allah swt. dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :

“Dan mereka tidak diperintah melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah:5)

Kemudian dalam surat Az-Zumar ayat 2 :
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar:2)

Berdasarkan pada kedua ayat tersebut, jumhur ulama menetapkan bahwa setiap amal ibadah harus didasari dengan niat ikhlas hanya untuk mencari keridhaan Allah. Ibadah tidak akan diterima Allah jika tidak dilandasi dengan niat ikhlas tersebut.

Hal ini semakin diperjelas dengan hadits berikut yang artinya :
“Sesungguhnya setiap amal itu harus dengan niat dan sesungguhnya masing-masing orang tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya (berniat) karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah tersebut (dicatat) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya (berniat) karena dunia yang akan diperoleh atau karena seorang perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan (mendapat) apa yang dia kerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa niat adalah wajib menjadi landasan dari setiap amal, dan amal tak akan sah jika tidak ada niatnya. Dalam ibadah mahdhah, misalnya shalat atau puasa, niat menjadi rukun ibadah. Karena menjadi rukun, maka ibadah tidak akan sah dan dianggap batal jika rukun tersebut tidak terpenuhi. Dari sini, maka niat sesungguhnya menjadi penentu sebuah ibadah. Diterima atau ditolaknya ibadah tergantung apakah dalam ibadah tersebut ada niat atau tidak.

2. Niat yang Salah akan Merusak Nilai Ibadah
Niat sesungguhnya merupakan ruh dari amal. Amal sendiri sebenarnya akan mengikuti niat. Amal perbuatan akan menjadi benar jika niatnya juga benar. Sebaliknya, amal pun akan menjadi rusak jika niatnya salah. Niat yang salah adalah kehendak hati yang bukan ditujukan kepada Allah.

Apapun jenis amal ibadahnya, baik yang mahdhah ataupun mu’amalah, akan menjadi rusak dan tidak berarti jika niat saat melakukannya salah. Shat yang dilakukan seseorang akan rusak nilainya dan bahkan menjadi tidak berarti jika niatnya bukan shalat kepada Allah. Contoh lain, misalnya seorang wanita sengaja tidak makan seharian dari masuknya waktu subuh hingga maghrib dengan niat untuk diet, maka lapar dan dahaganya tidak berpahala puasa, sebab niatnya bukan untuk puasa, meski antara diet dengan puasa sama-sama lapar. Contoh lainnya, saat seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain dengan niat agar ia mendapatkan simpati dari orang yang diberi, maka perbuatan itu tidak bernilai sedekah/ibadah, meskipun harusnya perbuatan itu termasuk sedekah/ibadah.

3. Niat bisa Menjadikan Hal yang Mubah Bernilai Ibadah
Sesungguhnya semua hal yang mubah bisa saja bernilai ibadah jika memang diniati untuk beribadah. Dengan demikian segala rutinitas kita bisa saja memperoleh ibadah jika memang diniati untuk melakukan segala rutinitas itu karena Allah.

Sebagai contoh, bekerja bisa bernilai ibadah jika diniati untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Belajar, membaca dan menonton pengajian agama di TV juga akan bernilai ibadah jika diniati untuk mencari ilmu. Bahkan, tersenyum kepada orang lain juga akan bernilai ibadah jika diniat untuk menyenangkan hati orang lain. Kesimpulannya, semua perbuatan manusia bisa bernilai ibadah jika diniati untuk ibadah.

Dari ketiga pengaruh tersebut, bisa diketahui bahwa niat memang pengaruh yang sangat besar terhadap amal kebaikan, bahkan bisa dikatakan unsur niatnya yang menjadi penentu utama dalam setiap amal.
Namun bukan berarti semua amal perbuatan serta-merta bisa diniati ibadah. Tidak semua tindakan bisa dijadikan sebagai sarana ibadah meski diniati sebagai ibadah. Yang jelas, semua amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia bisa saja bernilai ibadah jika amal perbuatan itu jelas-jelas tidak melanggar tata aturan Allah.

Jadi, semua hal atau perbuatan yang diharamkan oleh Allah tidak bisa dilakukan dengan alasan niat ibadah. Jadi bohong ceritanya jika meminum khamr atau mengonsumsi narkoba diniati agar tubuh menjadi vit sehingga bisa melakukan ibadah dengan giat. Demikian juga dengan memberi uang kepada seseorang dengan niat untuk sedekah, padahal uang yang diberikan itu didapatkan dengan cara yang haram.
Kita bisa menjadikan sebuah perbuatan dalam bentuk apapun sebagai ibadah dengan syarat perbuatan itu bukan termasuk hal yang diharamkan oleh Allah. Jika perbuatan tersebut nyata-nyata dilarang agama, seberapapun murninya niat tersebut tetap saja tidak akan berubah status haramnya menjadi halal atau sarana ibadah.

Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang buruk pula, akan tetapi Allah akan menghapus sesuatu yang buruk itu dengan sesuatu yang baik. Sesungguhnya yang kotor itu tidak akan bisa menghapus yang kotor.” (HR. Ahmad)
Read More ..

Rabu, 01 Mei 2013

Memahami Kembali Makna Ibadah

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ibadah adalah semua hal yang dicintai dan diridhai Allah swt., menyangkut ucapan maupun perbuatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak secara kasat mata. Jadi selagi hal tersebut merupakan hal yang dicintai dan diridhai Allah, maka semuanya bisa disebut ibadah. Atau ibadah adalah semua perbuatan baik yang niatnya adalah mencari ridha Allah swt.

Jadi, jangan mengartikan ibadah hanya dalam bentuk shalat, puasa, zakat, haji, berdzikir dan membaca Al Qur’an saja, tetapi lebih dari itu. Belajar atau sekolah untuk mencari ilmu, bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, menengok orang sakit, bahkan menyingkirkan duri di tengah jalan pun bisa disebut ibadah. Jadi pengertian ibadah itu sangat luas, seluas wilayah perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh manusia dalam hidupnya.

Dari pengertian ini maka jenis ibadah sesungguhnya tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Jika perbuatan baik itu bisa disebut ibadah, maka jumlah ibadah itu sendiri adalah sejumlah perbuatan baik yang dikenal manusia. Namun, para ulama membagi ibadah itu dalam dua jenis, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah mu’amalah.

1. Ibadah Mahdhah
Ibadah mahdhah adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah. Ibadah jenis ini biasanya berupa penyembahan seorang hamba kepada Allah. Banyak ulama menyatakan bahwa yang termasuk ibadah jenis ini adalah shalat, zakat, haji, dzikir, dan puasa.

2. Ibadah Mu’amalah
Ibadah mu’amalah adalah ibadah yang mencakup hubungan antar-manusia dalam rangka mengabdi kepada Allah. Ibadah jenis ini lebih bersifat social, yaitu berkaitan dengan hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Dibandingkan dengan ibadah mahdhah, ibadah mu’amalah mempunyai variasi bentuk yang lebih banyak. Demikian pula dengan tata aturannya. Ibadah mahdhah mempunyai tata aturan yang sudah mutlak, sementara itu ibadah mu’amalah tidak mempunyai tata aturan yang mengikat sehingga semua amal perbuatan manusia yang jelas-jelas tidak menyimpang dari larangan agama, semuanya bisa disebut ibadah, jika perbuatan itu termasuk perbuatan baik serta diorientasikan kepada Allah.

Jadi ada dua kategori yang harus terpenuhi dalam amal perbuatan hingga ia bisa disebut sebagai ibadah mu’amalah, pertama, perbuatan itu tergolong sebagai perbuatan baik yang jelas-jelas tidak melanggar aturan agama atau tidak termasuk sesuatu yang diharamkan, kedua, perbuatan itu orientasinya niat karena Allah atau diniati beribadah kepada Allah.

Dua kategori di atas adalah persyaratan agar amal perbuatan bisa bernilai ibadah. Jika salah satu dari persyaratan itu tidak terpenuhi, maka amal perbuatan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai ibadah mu’amalah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tindakan-tindakan buruk yang melanggar aturan Allah atau jelas-jelas diharamkan, tidak bisa disebut ibadah meskipun diniati untuk beribadah. Demikian juga sebaliknya. Tindakan-tindakan tertentu yang tergolong sebagai amal baik tidak bisa bernilai jika dilakukan bukan untuk berniat beribadah. Sebagai contoh, misalnya seseorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin membagi-bagikan sejumlah uang kepada orang banyak dengan maksud agar ia dipilih dan terpilih, maka pemberian itu bukan termasuk sedekah yang bernilai ibadah, sebab tujuan dari pemberian tersebut bukan untuk Allah melainkan untuk menarik simpati. Ini adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyaknya amal kebajikan yang tidak bernilai ibadah sebab tidak ada unsur niat beribadah di dalamnya.

Jadi, yang dibutuhkan agar amal kebajikan itu bisa bernilai ibadah adalah niat. Niat untuk ibadah kepada Allah tentunya. Yang dimaksud ibadah disini adalah niat mempersembahkan amal kebajikan itu untuk Allah, bukan untuk yang lain. Jadi, meski seseorang nyata-nyata melaksanakan ritual ibadah, misalnya shalat dan puasa, namun jika niatnya tidak ikhlas karena Allah, maka hal itu menjadi percuma. Ibadah model ini tidak akan diterima Allah. Naudzubillahi min dzalik.

Kesimpulannya, ibadah itu intinya pada niatnya, dan yang dibutuhkan dalam niat itu hanya satu, yakni ikhlas. Ibadah dalam bentuk apapun, sekecil atau sebesar apapun, semua itu baru bisa diterima Allah dan bisa dikategorikan sebagai ibadah jika dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah.

Read More ..

Sabtu, 02 April 2011

Arti Sebuah Kejujuran

Mukadimah
Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Definisi Jujur
Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan(di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran(kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya(kebenarannya).

Allah berfirman,
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,

“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemuliaan dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagiaan dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah(kepada yang ma’ruf), melarang(dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia di sisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam shalatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khianat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada(pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah(janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

“Tetapi jikalau mereka benar(imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”

Macam-Macam Kejujuran
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.

2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.

3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)

4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”

5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang menggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan(kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan(kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.

Khatimah
Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik.

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. asy-Syu’ara’: 84)

Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir(yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)

Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.

Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir(penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin(orang yang beriman) dan munafik(orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran, sebagaimana firman Allah,

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)

Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,

“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)

Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kehttp://www.blogger.com/img/blank.gifrjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)

Referensi:
1. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
2. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
3. Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke – 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
4. Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet – 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.

(Diambil dari majalah Fatawa)

Sumber : www.muslim.or.id
Read More ..

Jumat, 01 April 2011

Hati Seorang Mukmin

Hati adalah bagian terpenting dalam diri manusia selepas keberadaan ruh yang menjadi inti dasar dari segala-galanya. Tasawwuf yang berkembang dengan pesatnya di kebanyakan negara-negara Islam, menjadikan hati sebagai fokus pengkajian dan pusat pembahasan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang diridhai Allah. Tasawwuf juga dikenal sebagai ilmul Quluub(ilmu tentang hati dan penyakit-penyakitnya), atau Fiqhul Quluub (pemahaman yang komprehensif tentang hati dan penyakitnya). Kesehatan dan kebersihan hati adalah suatu hal yang sangat signifikan dalam Islam, sehingga kualitas hidup, Ibadah dan perjuangan seseorang dapat ditentukan melalui tahap kesucian dan kebersihan hatinya. Hal ini mendapat dukungan dan pembenaran dari Nabi Muhammad SAW di dalam sabdanya:

"Sesungguhnya pada jasad(tubuh manusia) ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh anggota jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh anggota jasad, sesungguhnya ia adalah hati." (HR. Bukhari)

Baiknya hati adalah faktor penentu(decisive factor) kepada baiknya seluruh anggota badan. Anggota badan yang baik adalah anggota badan yang dapat berfungsi secara positif untuk tujuan-tujuan Ibadah demi mencapai mardhatillah. Sesungguhnya, mata yang baik dapat melihat dengan jelas kebenaran orang lain dan kesalahan diri sendiri, mulut yang baik selalu dihiasi dengan dzikir dan kata-kata hikmah serta jauh dari menyebut-nyebut keburukan orang lain sebab, perbuatan itu sama dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah diri kamu dari prasangka, karena kebanyakan prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang, dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha mengasihani."(QS. Al-Hujurat: 12)

Tangan yang baik akan sentiasa berusaha mengambil apa-apa yang baik dan memberi yang terbaik sebagaimana lebah yang Allah contohkan di dalam Al Qur’an. Lebah mengambil sari dari bunga tanpa perlu merusak bunga, kemudian mengeluarkan madu yang segar untuk menjadi obat kepada manusia. Kedatangan lebah tidak sedikitpun membawa kerusakan kepada bunga, bahkan ia membawa kebaikan yang sangat besar kepada proses perkawinan tumbuh-tumbuhan. Sebagai seorang Mukmin kita harus berusaha membawa kebaikan kepada sesama Muslim sebatas kemampuan yang ada, agar wujud dan keberadaan kita menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan. Apabila hati kita sakit maka seluruh anggota badan kita akan berfungsi secara negatif dan destruktif(destructive), yang pada akhirnya membawa kepada kehancuran diri dan reputasi sebagai seorang Mukmin yang menjadi pewaris kepada perjuangan dakwah Nabi. Mata kita hanya berfungsi untuk mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain, mulut kita pula akan membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain, tangan kita akan selalu mengambil yang buruk dan memberikan yang buruk pula, dan telinga kita hanya tertarik kepada hal-hal yang buruk-buruk saja. Bila hal ini terjadi sesungguhnya tanpa kita sadari kewujudan kita telah menjadi penyebab kepada perpecahan dan permusuhan di kalangan umat Islam, yang pada akhirnya kehadiran kita tidak lebih dari sebuah bencana yang tak pernah diharapkan.

Semua pekerti buruk yang keluar dari hati yang rusak dan sakit akan menjadikan hati semakin sakit dan tertutup dari cahaya kebenaran, serta jauh dari keikhlasan. Kemudian hati akan berubah menjadi gudang dosa yang penuh dengan timbunan dosa dan noda sehingga hati semakin kecil dimakan oleh racun dosa sebagaimana besi dimakan oleh karat-karat yang berada di sekelilingnya.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya di dalam hati mereka ada bermacam-macam penyakit kemudian Allah tambahkan lagi penyakit itu sehingga hati mereka benar-benar gelap dan sakit, dan sesungguhnya Allah menyediakan untuk mereka azab yang pedih atas sebab pendustaan yang mereka lakukan."(QS. Al-Baqarah: 10)

Penyakit hati sangat berbahaya namun ia jarang mendapat perhatian yang sewajarnya dari kita, karena tidak mengetahui akan besarnya akibat yang akan timbul jika kita mengabaikannya. Kita biasanya lebih peka kepada tuntutan jasmani dan penyakit-penyakit yang diderita oleh jasmani kita. Bermacam-macam buku kesehatan kita koleksi dan kita baca, berbagai macam pakar kesehatan kita datangi namun kita lupa akan penyakit yang ada pada hati. Apakah namanya? Siapakah dokternya, mana bukunya dan apakah obatnya.

Sesungguhnya penyakit hati sangat banyak macam dan bentuknya seperti; cinta dunia yang berlebih-lebihan, iri hati, dengki, sombong, angkuh, dendam, khianat, bohong dan lain-lain. Semua penyakit ini, tidak ubahnya bagaikan penyakit kanker ganas yang semakin hari semakin membesar sehingga dapat merubah bentuk dan rupa manusia menjadi hewan yang liar dan ganas atau melebihi keganasan dan kebuasan hewan.

Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati(tetapi) tidak mau memahami(ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata(tetapi) tidak mau melihat(bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga(tetapi) tidak mau mendengar(ajaran dan nasihat). Mereka itu seperti hewan, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah adalah orang-orang yang lalai."(QS. Al-A'raf: 179)

Kebersihan hati sangat diperlukan dan merupakan modal dasar dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan. Hati yang bersih dan sehat bagaikan sebuah laut yang luas tenang dan damai, di atasnya berlabuh bahtera keimanan menuju pantai akhirat tempat kejayaan. Laut yang tenang menerima apa saja yang dilemparkan ke dalamnya tetapi secara perlahan ia saring dan hantarkan segala bangkai dan kotoran ke tepi pantai, sebab laut yang bersih tidak mau menelan bangkai. Seorang mukmin harus berusaha untuk dapat menerima perilaku orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan hati yang lapang dan penuh tenaga, kemudian secara arif menyaring dan menanggapi segala tuduhan, fitnah maupun buruk sangka. Pada akhirnya ia dapat mengambil yang jernih dan membuang yang keruh dengan sangat bijaksana. Kebaikan dan keburukan adalah gendang dari sebuah kehidupan yang nyata, dan menjadi materi utama dalam ujian kehidupan kita di dunia. Kebaikan dan keburukan bisa muncul dari diri kita ataupun dari diri orang lain. Bila kebaikan muncul dari diri kita ia hendaklah merupakan ibadah kepada Allah dan bukanlah sebuah demonstrasi kebaikan untuk mendapat pujian dan sanjungan dari manusia, dan bila kebaikan itu muncul dari orang lain ia harus dilihat sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan yang harus kita contoh dan teladani. Apabila keburukan muncul dari diri kita ia adalah manifestasi dari proses penurunan iman dan kelemahan jiwa kita yang tentunya menuntut perbaikan segera. Apabila keburukan itu muncul dari orang lain ia adalah suatu peringatan dan teguran yang bermakna untuk kita, dan bukanlah sarana untuk kita saling berdendam dan saling mencerca. Sebuah keburukan tidak dapat diselesaikan dengan keburukan sebagaimana dendam tidak dapat menyelesaikan persengketaan.

Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam, telah mengajarkan kita untuk bersikap pemaaf atas kesalahan orang lain, karena kitapun tidak terlepas dari berbuat kesalahan. Bila kita bersedia untuk memaafkan orang lain niscaya Allah akan membukakan hati orang lain untuk memaafkan kita. Seorang Mukmin harus menyadari dan selalu merasa bahwa kesalahannya kepada orang lain lebih besar dari kesalahan orang lain terhadap dirinya, maka ia tidak memiliki sebab yang kuat untuk tidak memaafkan orang lain. Dengan memaafkan orang lain kita berharap agar Allah mengampunkan dosa kita yang tak terhitung jumlahnya.

Allah berfirman:
"Dan tidaklah sama(kesan dan hukum) perbuatan baik dan perbuatan jahat. Tolaklah(kejahatan yang ditujukan kepadamu) dengan cara yang lebih baik, apabila engkau berlaku demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib."(QS. Fushshilat: 34)

Sebagai seorang mukmin kita harus berusaha memperbanyak sahabat dan memperkecil musuh, sebab seribu sahabat masih terlalu sedikit dalam kehidupan dunia yang luas ini, tetapi satu musuh sudah terlalu banyak karena ia akan mempersempit serta mempengaruhi semua kegiatan harian kita. Kita harus berusaha untuk menjadi sebuah pohon yang berbuah lebat, bila dilempar dengan batu ia ahttp://www.blogger.com/img/blank.gifkan balas dengan melemparkan buahnya. Pohon adalah laksana iman yang kokoh dan buahnya adalah akhlak-akhlak yang mulia, maka Mukmin yang teguh Imannya akan menjawab kejahatan orang lain dengan Akhlak yang mulia, sebab akhlak lebih nyaring dan jelas dari kata-kata. Sesungguhnya nilai diri kita terletak pada tahap pengabdian dan keihklasan kita kepada Allah dan bukan pada penilaian manusia. Biarlah kita hina pada kaca mata manusia tetapi mulia di sisi Allah, daripada mulia di sisi manusia tetapi hina di sisi Allah.

Allah berfirman:
"sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengerti atas segala sesuatu."(QS. Al-Hujurat: 13)

Sumber : dudung.net
Read More ..

Hukum Merayakan April Mop

Pada tanggal 1 April kita mengenal istilah yang biasa disebut hari “April Mop” atau “April Fool’s Day” dalam istilah bahasa Inggris. Pada hari tersebut banyak orang melakukan lelucon dan trik untuk menipu dan mempermalukan orang karena hal tersebut dianggap sah dan wajar dilakukan.

Dalam hukum Islam, segala perbuatan yang merugikan orang lain baik secara materi ataupun non materi adalah haram. Dan secara khusus pula perbuatan menipu selain merugikan orang lain, dibahas secara terpisah dalam kategori akhlak mazmumah, yang apabila merambah tindak hukum pidana/jinayah maka akan mendapatkan sanksi hukuman yang setimpal. Misalnya : Menipu/berdusta terhadap tuduhan zina ( Qadzaf ) yang berakibat hukuman cambuk 80 kali dan tidak diterima kesaksiannya selamanya.

Tindakan penipuan mempunyai 2 segmen dari segi tujuannya :

1. Menipu untuk menjatuhkan/mengambil keuntungan terhadap korbannya, misalnya : seseorang menipu orang lain untuk mengambil hartanya. Ataupun menjatuhkan martabatnya dengan menuduh berbuat zina.

2. Menipu untuk mengambil keuntungan pada diri sendiri/meningkatkan popularitas diri, misalnya : membuat hadits palsu. Bahkan Rasulullah sendiri menyatakan dalam haditsnya yang diriwayatkan secara mutawatir :

من كذّب عليّ متعمّداً فليتبوّأ مقعده من النار


“Barang siapa yang sengaja berbohong/berdusta terhadapku (haditsku) maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka”.

April Mop yang banyak dilakukan orang pada dasarnya adalah lelucon dan tidak dimaksudkan untuk melukai orang secara sengaja, namun dampak yang dapat terjadi sangatlah besar. Berikut beberapa kejadian nyata yang terjadi akibat kelalaian orang yang menganggap april mop hanya sekedar gurauan :

1. Gempa yang terjadi pada tanggal 1 April 1946 di Pulau Aleutian menyebabkan tsunami di Kepualauan Hawai dan Alaska yang menewaskan 165 orang. Hal ini terjadi akibat orang-orang tidak percaya kedatangan tsunami yang dianggap sebagai April Mop.

2. Kematian Raja George II dari Yunani banyak diragukan orang karena jatuh pada tanggal 1 April 1947. Suasana yang dianggap lucu berubah menjadi berita duka.

3. Hari Republik Negara Iran yang ditetapkan pada 1 April 1979 dianggap sebuah lelucon hingga 30 tahun kemudian.

4. Penyanyi era tahun 70-an Marvin Gaye di tembak oleh ayahnya, karena terjadi pada tanggal 1 April 1984 insiden ini dianggap hanya sebuah gurauan. Beberapa waktu kemudian barulah kejadian tersebut diperiksa oleh pihak kepolisian.

5. Kematian legenda Deathrock Rozz Williams dianggap hanyalah sebuah kebohongan karena terjadi pada tanggal 1 April 1998.

Kesimpulan akhir tentang pembahasan april mop adalah keharaman perbuatan tersebut bagi umat muslim. Pertimbangan keharaman tersebut terangkum dalam sebuah uraian fatwa DR. Yusuf AL-Qardhawi :

1. Karena itu adalah dusta. Dusta bukan bagian dari akhlak seorang beriman, tapi akhlak kaum munafiqin. Rasulullah saw bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga, bila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia ingkar, dan bila diberi amanah dia berkhianat.” Dalam hadits lain disebutkan, “Ada empat perkara bila semuanya berkumpul pada diri seseorang, maka dia adalah orang munafik murni. … salah satunya adalah dusta.”

2. Karena kedustaan akhlak yang bertolak belakang dengan keimanan. Rasulullah saw pernah ditanya apakah seorang mukmin bisa menjadi seorang pengecut? Rasulullah saw menjawab, ”ya.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah ia bisa menjadi orang yang pelit?” Rasulullah saw menjawab, “ya.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah ia bisa menjadi orang pendusta?” Rasulullah saw menjawab, “tidak.”

3. Dusta adalah pengkhianatan terhadap sahabat dan teman. Rhttp://www.blogger.com/img/blank.gifasulullah saw bersabda, “Sebesar-besarnya pengkhianatan, sebesar-besarnya pengkhianatan, adalah jika engkau berbicara pada saudaramu dengan perkataan yang dia anggap engkau jujur, sedangkan engkau berdusta kepadanya.”

4. April Mop termasuk taqlid a’ma (mengikuti secara membabi buta), terhadap kebiasaan non Muslim. Kita sebagai umat yang dijadikan Allah swt sebagai umat pertengahan, dan menjadi saksi atas manusia tidak boleh mengikuti kebiasaan orang-orang non-Muslim melakukan kedustaan, kebohongan, keburukan. Kita tidak boleh mencampur antara yang baik dengan yang tidak baik.”

Wallahu A’lam.

Sumber : www.asabdurrahman.com
Read More ..

April Mop - Hari Pembantaian Umat Islam

Bulan April telah tiba. Ada suatu kebiasaan jahiliyah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?

Sejarah April Mop

Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine's Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April's Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur'an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur'an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April's Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari.

Sumber : eramuslim.com
Read More ..

Senin, 14 Februari 2011

Hukum Merayakan Maulid Nabi

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Apa hukum merayakan maulid nabi ?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal dan bukan malam 12 Rabi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Rabi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي


“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasulullah. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasulullah hanya bermaksud mengagungkan beliau. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak pondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

Sumber : www.muslim.or.id
Read More ..
Edited by EXz
Visit Original Post Islamic2 Template