Senin, 20 Desember 2010

7 Kelebihan Setan Dibandingkan Dengan Manusia (Renungan)

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Selalu Berusaha

Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia dan agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3. Konsisten
Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaannya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih menganggur.

4. Solidaritas

Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius
Setan itu paling pintar mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6. Tanpa Pamrih

Setan itu bekerja 24 jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar.

7. Suka Berteman
Setan adalah makhluk yang selalu ingin berteman, berteman agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri sendiri dan egois.
Read More ..

Rabu, 15 Desember 2010

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Islam (Hijriah). Sebelum Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), penanggalan bulan dibuat mengikuti tahun Masehi. Hijrah Rasulullah memberi kesan besar kepada Islam dari sudut dakwah Rasulullah, ukhuwwah dan syiar Islam itu sendiri.

Pada asasnya, Muharram membawa maksud 'diharamkan' atau 'dipantang', yaitu Allah swt. melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah.

Peristiwa-Peristiwa Penting pada Bulan Muharram:
1 Muharram - Khalifah Umar bin Khattab mulai membuat penanggalan bulan dalam Hijirah.
10 Muharram - Dinamakan juga hari 'Asyura'. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan dan perjuangan yang gigih dan tabah dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.

Pada 10 Muharram juga telah berlaku:
1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
7. Penglihatan Nabi Yaakub yang kabur disembuhkan Allah.
8. Nabi Ayub disembuhkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya.
9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentara Firaun.
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
13. Hari pertama Allah menciptakan alam.
14. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
15. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
16. Allah menjadikan 'Arasy.
17. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
18. Allah menjadikan alam.
19. Allah menjadikan Malaikat Jibril.
20. Nabi Isa diangkat ke langit.

Amalan-Amalan Sunat pada Bulan Muharram:

1. Berpuasa.
“Barang siapa berpuasa satu hari dalam bulan Muharram pahalanya seumpama berpuasa 30 tahun.”
“Barang siapa yang berpuasa tiga hari dalam bulan Muharram, yaitu hari Kamis, Jumat dan Sabtu, Allah tulis padanya pahala seperti beribadah selama 2 tahun.”
2. Memperbanyak amal ibadah seperti shalat sunat, dzikir dan sebagainya.
3. Berdoa akhir tahun pada hari terakhir bulan Dzulhijjah selepas Ashar sebanyak 3 kali.
4. Berdoa awal tahun pada 1 Muharram selepas Maghrib sebanyak 3 kali.


Keutamaan yang terkandung di bulan Muharram:

Dosa yang dilakukan pada bulan-bulan yang dimuliakan tersebut lebih dahsyat dari bulan-bulan selainnya. Dan begitu juga sebaliknya bahwa pahala amal shalih begitu besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Firman Allah swt. yg artinya:

“Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian di dalamnya -bulan-bulan tersebut- (QS.at-Taubah: 36)

Berkata Ibnu Katsir: “Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemuliaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar.”

Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (puasa ‘Asyura).

Rasulullah saw bersabda,

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram.” (HR. Muslim)

dan di dalam hadits yang lain beliau juga bersabda,

“Puasa ‘Asyura menghapus kesalahan setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah aku melihat Rasulullah lebih menjaga puasa pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu ‘Asyura.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).

Pada hari ‘Asyura merupakan hari-hari Allah, yang pada hari itu al-haq mendapatkan kemenangan atas kebatilan. Orang-orang mukmin yang sedikit mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir yang banyak. Pada hari itu pula Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya dari kerajaan Fir’aun, sehingga nabi Musa berpuasa sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, dia berkata; “Ketika Nabi saw datang di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura, kemudian beliau bertanya: “Hari apa ini?” mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah nabi Musa as. Beliau bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan -para sahabat- agar berpuasa pada hari itu.”

Empat belas perkara sunat dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram):

1. Melapangkan masa/belanja anak isteri. Fadilahnya - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.
2. Memuliakan fakir miskin. Fadilahnya - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti.
3. Menahan marah. Fadilahnya - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam golongan yang ridha.
4. Menunjukkan orang sesat. Fadilahnya - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya.
5. Menyapu/mengusap kepala anak yatim. Fadilahnya - Allah akan mengkaruniakan sepohon pokok di surga bagi tiap-tiap rambut yang disapunya.
6. Bersedekah. Fadilahnya - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil hingga ia mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir miskin di dunia ini.
7. Memelihara kehormatan diri. Fadilahnya - Allah akan mengkaruniakan hidupnya senantiasa diterangi cahaya keimanan.
8. Mandi Sunat. Fadilahnya - Tidak sakit (sakit berat) pada tahun itu. Lafaz niat: "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura karena Allah Taala."
9. Bercelak. Fadilahnya - Tidak akan sakit mata pada tahun itu.
10. Membaca Surat Al-Ikhlas 1,000X. Fadilahnya - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmat di akhirat nanti.
11. Shalat sunat empat rakaat. Fadilahnya - Allah akan mengampunkan dosanya walau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya. Lafaz niat: "Sahaja aku shalat sunat hari Asyura empat rakaat karena Allah Taala." Pada rakaat pertama dan kedua sesudah membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat Al-Ikhlas 11 kali.
12. Membaca "hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nasiir". Fadilahnya - Tidak mati pada tahun ini.
13. Menjamu orang berbuka puasa. Fadhilah - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.
14. Puasa. Niat - "Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura karena Allah Taala." Fadilah - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya daripada neraka.
Read More ..

Senin, 06 Desember 2010

Hukum Memberi Ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriyah”

Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Berikut fatwa berkaitan akan masuknya bulan Muharram :

سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية وماذا يرد على المهنئ ؟

فأجاب رحمه الله :

إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه ولا تبتديء أحداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير وجعله عام خير وبركه ، لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل اعلموا أن السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. انتهى

المصدر إجابة السؤال رقم 835 من اسطوانة موسوعة اللقاء الشهري والباب المفتوح الإصدار الأول اللقاء الشهري لفضيلته من إصدارات مكتب الدعوة و الإرشاد بعنيزة


Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya :
Apa hukum mengucapkan selamat tahun baru Islam ?
Bagaimana menjawab ucapan selamat tersebut?

Syaikh menjawab :
Jika seseorang mengucapkan selamat, maka jawablah, akan tetapi jangan kita yang memulai. Inilah pandangan yang benar tentang hal ini. Jadi jika seseorang berkata pada anda misalnya : ”Selamat tahun baru!, anda bisa menjawab “Semoga Allah jadikan kebaikan dan keberkahan di tahun ini kepada anda.” Tapi jangan anda yang mulai, karena saya tidak tahu adanya atsar salaf yang saling mengucapkan selamat hari raya. Bahkan Salaf tidaklah menganggap 1 Muharram sebagai awal tahun baru sampai zaman Umar bin Khattab ra.
Read More ..

Hukum Memperingati Tahun Baru Islam

Oleh : Al ‘Allamah Asy-Syaikh Utsaimin Rahimahullah

Telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah kaum muslimin memperingati Tahun Baru Islam. Sehingga tanggal 1 Muharram termasuk salah satu Hari Besar Islam yang diperingati secara rutin oleh kaum muslimin.

Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam? Apakah perbuatan tersebut dibenarkan dalam syari’at Islam?

Berikut penjelasan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala ketika beliau ditanya tentang permasalahan tersebut. Beliau adalah seorang ahli fiqih paling terkemuka pada masa ini.

Pertanyaan :

Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.

Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :

تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.

ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً محذور آخر.

كتبه محمد بن صالح العثيمين

24/1/1418 هـ


Jawab :

Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat. Oleh karena itu ketika Nabi saw datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliah. Maka Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“

Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.

Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.

Ditulis oleh :

Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn

24 – 1 – 1418 H

[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]

Para pembaca sekalian,

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :

- Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

- Perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum muslimin agar meninggalkan kebiasaan memperingati Tahun Baru Islam. Sangat disesalkan, ada sebagian kaum muslimin berupaya menghindar dari peringatan Tahun Baru Masehi, namun mereka terjerumus pada kemungkaran lain yaitu memperingati Tahun Baru Islam. Lebih disesalkan lagi, ada yang terjatuh kepada dua kemungkaran sekaligus, yaitu peringatan Tahun Baru Masehi sekaligus peringatan Tahun Baru Islam.

Wallâhu a’lam bish shawâb
Read More ..

Minggu, 05 Desember 2010

Makna Islam dan Iman

Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnya melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islam adalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya.

Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, Iman dan Ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

Perbedaan di antara Islam, Iman dan Ihsan:
Islam dan Iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya, karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.

Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya, karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

Pengertian Islam
Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka dia seorang kafir yang sombong.

Rukun Islam
Rukun Islam ada lima:
Dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan." Muttafaqun 'Alaih.[1]

Pengertian Syahadah (laailaaha illallah)
Manusia mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan sesembahan-sesembahan selain Dia I, maka ketuhanannya adalah batil dan ibadahnya juga batil. Kalimah syahadah tersebut mengandung nafi (meniadakan/menolak) dan itsbat (menetapkan). (Laa ilaaha), artinya menolak semua yang disembah selain Allah, (Illallah) adalah menetapkan ibadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menyembah-Nya, seperti tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

Pengertian syahadah (Muhammad Rasulullah)
Taat kepada Nabi dalam perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi yang dilarangnya, dan dia tidak menyembah Allah kecuali dengan cara yang disyari'atkannya.

Pengertian Iman
Iman: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.
Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat.

Cabang-cabang Iman

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman.'" HR. Muslim[2]

Tingkatan-tingkatan Iman
Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.
1. Adapun rasanya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabda-Nya: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul." HR. Muslim[3]
2. Adapun manisnya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabdanya: "Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka." Muttafaqun 'alaih.
3. Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.

1, Firman Allah swt:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ {4}


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal,
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)

2, Firman Allah swt:
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ


Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 74)

3, Firman Allah swt:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ


Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraan :15)

Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman sehingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apapun yang luput darinya pasti tidak akan menimpanya.

Kesempurnaan Iman
Cinta yang sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya memberikan konsekuensi adanya sesuatu yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah.
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah bersabda, "Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah, niscaya dia telah menyempurnakan iman." HR. Abu Daud[4]

Perkara-Perkara Keimanan
Cinta kepada Rasulullah:
Dari Anas bin Malik, ia berkata, 'Rasulullah bersabda, 'Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan manusia sekalian." Muttafaqun 'alaih.[5]

Mencintai kaum anshar:
Dari Anas, dari Nabi, beliau bersabda, "Tanda iman adalah mencintai kaum anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum anshar." Muttafaqun 'alaih[6]

Mencintai orang-orang yang beriman:
Dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Rasulullah bersabda, 'Kamu tidak bisa masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kaum saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kaum lakukan niscaya kalian saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kamu." HR. Muslim[7]

Mencintai saudaranya sesama Islam:
Dari Anas bin Malik, dari Nabi, beliau bersabda, "Tidak beriman (sempurna) seseorang kamu sehingga dia mencintai saudaranya –atau tetangganya- apa yang dia cintai untuknya dirinya." Muttafaqun a'alaih[8]

Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik:
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya." Muttafaqun 'Alaih.[9]

Memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar:
Dari Abu Sa'id al-Khudri, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda, 'Barang siapa di antara kalian melihat yang mungkar (yang dilarang agama) hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman." HR. Muslim.[10]

Nasehat:
Dari Tamim ad-Darimi, bahwasanya Nabi bersabda, " Agama adalah nasehat.' Kami bertanya, 'Untuk siapa?' Beliau menjawab, 'Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam secara umum." HR. Muslim. [11]

Iman adalah amalan yang paling utama:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah ditanya: 'Apakah amalan yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Haji yang mabrur." Muttafaqun 'Alaih.[12]

Iman bertambah dengan taat dan berkurang dengan perbuatan maksiat:
1. Firman Allah swt:
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath :4)

2. Firman Allah swt:
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :"Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?". Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah :124)

3. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Tidak berzina orang yang berzina saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman. Tidak mencuri orang yang mencuri saat dia mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan tidak meminum arak (orang yang meminumnya) saat dia meminum sedangkan dia dalam keadaan beriman." Muttafaqun 'alaih.[13]

4. Dari Anas bin Malik, dari Nabi, beliau bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat rambut. Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah' dan di hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi (atom)." Dan dalam satu riwayat: 'iman' di tempat 'kebaikan'.

Amal perbuatan orang kafir yang dilakukannya sebelum Islam:
1. Apabila orang kafir masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka segala keburukan diampuni untuknya, karena firman Allah swt:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". (QS. Al-Anfaal :38)

2. Dan segala amal kebaikan (yang dilakukannya semasa kufur) diberikan pahala kepadanya, berdasarkan riwayat bahwa Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah: 'Bagaimana pendapatmu terhadap beberapa perkara (kebaikan) yang pernah saya lakukan di masa jahiliyah, apakah ada balasannya untuk saya?' Rasulullah bersabda kepadanya:'Kamu masuk Islam bersama kebaikan yang pernah kamu lakukan." Muttafaqun 'Alaih.[14]

3. Dan (sebaliknya) barang siapa yang masuk Islam, kemudian melakukan dosa, maka dia disiksa dengan (dosa) pertama dan yang terakhir. Berdasarkan sabda Nabi: 'Barang siapa yang berbuat di masa Islam, niscaya tidak disiksa karena perbuatan buruk yang dia lakukan di masa jahiliyah. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan di masa sesudah Islam, niscaya dia disiksa karena (dosa) yang pertama dan terakhir." Muttafaqun 'Alaih.[15]

[1] HR. Bukhari no. 8 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 16
[2] HR. Muslim no. 35
[3] HR. Muslim no. 34
[4] Hasan/ HR. Abu Daud no. 4681, Shahih Sunan Abu Daud no. 3915. Lihat, as-Silsilah ash-Shahihah no 380
[5] HR. al-Bukhari 15 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no. 44
[6] HR. al-Bukhari no. 17 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 74
[7] HR. Muslim no 54
[8] HR. al-Bukhari no. 14 dan Muslim no. 45, ini adalah lafazhnya.
[9] HR. al-Bukhari no (6018) dan Muslim no. 48 dan ini adalah lafazhnya.
[10] HR. Muslim (49).
[11] HR. Muslim 55.
[12] HR. al-Bukhari no. 26 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 83.
[13] HR. al-Bukhari no. 2475 dan Muslim no. 57 dan ini adalah lafazhnya.
[14] HR. al-Bukhari no. 1436 dan Muslim no. 123 dan ini adalah lafazhnya.
[15] HR. al-Bukhari no. 50 dan Muslim 8 dan ini adalah lafazhnya.

Sumber : www.islamhouse.com
Read More ..

Sabtu, 16 Oktober 2010

Mengenal Hadits

Hadits menurut para ulama ahli Hadits (Muhadditsin) adalah segala ucapan, perbuatan, taqrir (Peneguhan / mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan), dan sifat-sifat Rasulullah saw. Namun ulama usul fikih mendefinisikan Hadits lebih sempit lagi, yaitu terbatas pada ucapan, perbuatan dan taqrir Rasulullah saw yang berkaitan dengan hukum.

1. Ucapan
Ucapan yaitu semua ucapan Rasulullah saw tentang berbagai bidang seperti aqiqah, akhlak, pendidikan, hukum, muamalah dan sebagainya.

Berikut beberapa contoh hadits yang berupa ucapan Rasulullah saw :
Tentang Akhlak, Rasulullah saw bersabda, "Kekejian dan perbuatan keji sama sekali bukan dari ajaran Islam. Sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya."(HR Tirmidzi)

Tentang Pendidikan, Rasulullah saw bersabda, "Tidak pantas bagi orang bodoh mendiamkan kebodohannya. Juga tidak pantas bagi orang berilmu itu mendiamkan (Maksudnya, tidak mengamalkan / tidak mengajarkan) ilmunya." (HR. Thobroni, Ibnu Sunni, dan Abu Nu'aim)

2. Perbuatan
Perbuatan yakni pengalaman atau penjelasan praktis yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap syariat(Hukum) yang belum jelas cara pelaksanaannya.

Berikut beberapa contoh hadits yang berupa perbuatan Rasulullah saw :
Tentang Menghilangkan najis mugholadoh, Rasulullah saw bersabda, "Apabila bejana (wadah) salah seorang diantara kalian dijilat anjing, maka buanglah isinya, dan cucilah dengan air sebanyak tujuh kali." (HR Bukhori)

Tentang Tayamum, Rasulullah saw bersabda, "Dijadikan bumi itu bagiku tempat shalat dan sebagai pencuci. Dimana saja aku mendapati waktu shalat, maka aku tayamum dan shalat." (HR. Achmad)

3. Taqrir (Peneguhan / mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan) Rasulullah saw terhadap ucapan atau perbuatan sahabat di hadapan Rasulullah saw.

Contohnya tentang diperbolehkannya makan daging Dhob.
Abdullah bin Abbas mengisahkan, ia dan Khalid bersama sama dengan Rasulullah saw datang ke rumah Maimunah (Salah seorang istri Rasulullah saw). Lalu dihidangkanlah daging Dhob bakar. Ketika Rasulullah saw mengulurkan tangannya hendak menjangkau hidangan tersebut, berkatalah seorang wanita yang juga berada di rumah itu,
"Beritahu Rasulullah saw tentang hidangan yang hendak beliau makan itu."
Maka dikatakan kepada beliau bahwa yang dihidangkan itu daging dhob, seketika beliau menarik tangannya kembali.
"Apakah itu haram ya Rasulullah?" Tanya Abdullah bin Abbas.
"Tidak, namun karena tidak ada di negeriku, maka aku merasa jijik memakannya."
Lalu Khalid mengambil daging itu dan memakannya, sedangkan Rasulullah saw melihatnya saja.(HR Muslim)

Hadits lain menyebutkan,
Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah saw ditanya tentang hukum dhabb, maka beliau menjawab, "Aku tidak memakannya namun tidak mengharamkannya." Beliau juga ditanya tentang hukum makan belalang, maka beliau menjawab, "Hukumnya sama." (HR An-Nasa'i)

Hadits lain menyebutkan,
Rasulullah saw bersabda, "Makanlah hewan itu karena hukumnya halal. Namun hewan itu bukan makananku." (HR Muslim)

Untuk Keterangan :
Apa itu Dhabb?
Untuk mengetahui apa itu dhabb, pembaca bisa membuka Kitab Al-Hayawan karya Abu ‘Utsman ‘Amr bin Bahr Al Jahizh yang terdiri dari delapan jilid atau Tajul ‘Arus karya Murtadha Az Zabidi ataupun kamus arab lainnya. Di dalam dua kitab itu disebutkan tentang apa itu dhabb terlebih lagi pada kitab yang pertama, di sana kita bisa mengetahui banyak tentang dhabb.
Dan disini penulis hanya mencukupkan beberapa keterangan saja , diantaranya:
- Dhabb adalah hewan reptil yang hidup di gurun pasir,
- termasuk dari hewan darat bukan laut atau air,
- termasuk dari jenis hewan darat yang kepalanya seperti ular,
- umurnya panjang,
- sekali bertelur bisa mencapai 60 sampai 70 butir dan telurnya menyerupai telur burung merpati,
- warna kulitnya bisa berubah dikarenakan perubahan cuaca panas,
- tidak meminum air bahkan mencukupkan dirinya dengan keringat,
- ekor adalah senjatanya,
- gigi-giginya tumbuh berbarengan,
- mempunyai 4 kaki yang mana semua telapaknya seperti telapak tangan manusia,
- sebagiannya ada yang mempunyai dua lidah,
- hewan yang dimakan hanya belalang,
- terkadang memakan anaknya sendiri,
- memakan tetumbuhan sejenis rumput,
- menyukai kurma,
- sebagian orang arab merasa jijik dengannya.

Sebagian ulama berpendapat Dhabb tidak sama dengan Biawak. Jadi dari hadits tersebut beberapa ulama berpendapat Rasulullah membolehkan Dhabb (Walaupun Beliau sendiri tidak memakannya), dan mengharamkan biawak (karena ciri-ciri fisik dhabb tidak sama dengan biawak).
Read More ..

Jumat, 08 Oktober 2010

Jalan Menuju Allah

Penulis : Kholis

Banyak orang yang tersesat mencari Allah, karena tidak menyadari keberadaan Allah yang sangat dekat dengan manusia. Allah sesungguhnya tidak perlu dicari. Hanya sesuatu yang pernah hilang yang pantas dicari, sementara Allah selalu ada dimana-mana, dan tidak pernah hilang. Allah tidak pernah tidur dan selalu mengawasi gerak-gerik kita. Tidak ada satu pun yang luput dari-Nya, Karena, Ia yang meliputi langit dan bumi beserta isinya.

Maha suci Allah Pemberi Rahmat Alam Semesta.
Tak perlu jalan yang terjal dan sulit untuk mengenal-Nya. Untuk mengenal Allah tidak perlu rumit-rumit, tidak perlu pusing-pusing. Tidak menjadi jaminan orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas, sudah mengenal Allah. Akal tidak mampu membuka rahasia Allah. Hanya hati orang mukmin yang mampu merasakan dan mewadahi Asmaul Husna.

Bacalah Al-Qur'an dengan hati penuh keimanan. Mushaf suci itu adalah kalam Ilahi yang tidak cukup dipahami dengan akal. Jangan sampai terjebak kita hanya menjadi pakar Al-Qur'an, tapi sesungguhnya tidak memahami hakekatnya. Hati pun tak pernah bergetar kala dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Jiwa membeku tak merasakan getaran kehadiran Allah. Dan, hati pun menjadi buta dengan petunjuk-Nya.

Oleh karena itu, saatnya membuka jiwa dan mengasah hati agar merasakan kehadiran Allah. Namun, kita sering terhijab dengan pikiran dan perasaan kita sendiri. Jalan menuju Allah pun akhirnya terhadang oleh tubuh kita yang sering dipenuhi nafsu amarah. Jika kita hanya dibalut dengan pikiran dan perasaan, maka kita tak akan pernah terhubung pada Allah Yang Maha Kuasa.

Namun, jika kita berdzikir dengan asma-asma Allah, lisan kita, pikiran kita dan perasaan kita akan bersatu menuju Allah. Meski kesengsaraan dan kepayahan menghimpit kita, tak ada satu pun yang mampu menggoyahkan tekad jika hati sudah tertanam aqidah dan jiwa sudah menjawab panggilan-Nya.

Saat Nabi Muhammad mengajak para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Jarak tempuh dari kota Mekah sampai ke Madinah, pada saat itu hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau naik unta. Nabi bersama rombongan membutuhkan waktu yang lama, berbulan-bulan untuk tiba di Madinah, yang saat itu bernama Yatsrib. Tak banyak umat Islam yang siap menempuh medan yang berat, melewati padang pasir yang gersang dan berbahaya, apalagi dengan bekal makanan dan minuman yang terbatas. Inilah ujian yang berat bagi umat muslim. Apakah umat Islam kalah dalam ujian ini? Apakah umat muslim memilih mundur dari tantangan itu?

Hanya kaum muslim yang memiliki iman yang kuat, yang berani menempuh perjalanan sulit itu. Nabi tidak membutuhkan umat yang banyak dalam peristiwa hijrah itu. Nabi cukup memiliki sedikit sahabat yang benar-benar teruji imannya. Nabi tidak membutuhkan umatnya, yang berhijrah karena harta atau wanita. Karena, mereka yang terpilih adalah yang melakukan hijrah karena Allah semata.

Iman adalah cahaya yang mampu menembus sekat-sekat. Daya vibrasinya kuat, hingga menggetarkan alam semesta. Inilah awal mula Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia, karena modal iman yang kuat. Islam berkembang pesat hingga saat ini setelah Nabi menanamkan pondasi aqidah, yang dipegang teguh oleh para sahabat, para tabi'in serta umatnya hingga zaman ini.

Saat ini kita sudah mengucapkan syahadat sebagai sebuah kesaksian spiritual akan keesaan Allah, dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Kita pun mengaku sudah beriman. Namun, kita sering merasakan hampa dalam kehidupan ini. Kita masih sering sedih, bingung, takut dan pesimis. Kita pun tak merasakan kehadiran Allah, karena pikiran dan perasaan kita lebih banyak terikat dalam kehidupan duniawi.

Kita merasakan kesenangan karena sensasi kesenangan duniawi baik berupa harta, tahta, istri atau anak-anak kita. Sebaliknya, kita pun menderita karena keinginan duniawi kita tak terpenuhi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tertambat dengan istri kita, anak-anak kita, atau harta kita. Di sanalah letak persoalannya yang membuat kita sedih atau senang. Dalam sebuah hadist Nabi bersabda, “Barang siapa yang mencintai sesuatu maka bersiaplah untuk disakiti olehnya, barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan diperbudaknya.”

Keimanan kita salah satunya ditentukan keimanan terhadap takdir baik dan takdir buruk yang menimpa kita. Iman kita sering ambruk karena gagal menerima takdir buruk dari Allah. Setiap orang baik beriman maupun tidak beriman akan menghadapi takdir Allah, namun ada perbedaan yang mendasar. Bagi orang beriman, semua persoalan akan dikembalikan pada Allah. Semuanya milik Allah dan akan kembali pada Allah.

Semua orang baik yang beriman maupun tidak beriman akan mendapat persoalan, atau kesulitan hidup. Tidak benar ada keyakinan bahwa hanya orang yang beriman yang mendapat ujian. Kita, orang-orang yang imannya masih tipis, tetap akan dihadang oleh takdir Allah yang mungkin rasanya pahit atau rasanya enak. Tapi ada perbedaan bagi orang yang beriman dan tidak beriman dalam menghadapi takdir Allah.

Orang yang beriman akan menyadari rahasia di balik takdir yang diberikan oleh Allah. Karena, ia selalu menghadap dan berkomunikasi dengan Allah, melalui shalatnya yang khusyu'.

Kekhusyu'an akan membawa kita pada tahapan ihsan, merasakan bahwa Allah selalu melihat dan mengawasinya. Bahkan, ia akan makin merasakan bahwa semua penglihatan, pendengaran, dan geraknya adalah Allah.

Tingkatan iman seperti ini tak akan tercapai jika kita masih terhalang oleh dosa kita, akal kita dan kebodohan kita. Allah tidak akan bisa ditemui jika hati kita kotor. Allah tidak akan bisa digapai dengan akal dan kepintaran kita, karena Allah Zat Yang Maha Agung. Begitu pula, kebodohan kita membuat kita miskin ilmu, untuk memahami hakekat menuju Allah.

Nabi mengajarkan pada umatnya sebuah jalan untuk menuju Allah, yaitu shalat. Seringkali kita melakukan shalat, tetapi terlalu sibuk dengan gerakan dan bacaannya. Kita tidak mampu memisahkan mana tubuh kita, mana rohani kita.

Tubuh kita cenderung pada tanah, karena memang terbuat dari tanah. Maka, tidak heran kita cenderung mencintai sesuatu yang berasal dari tanah, seperti anak-anak kita, istri kita, perhiasan dan binatang ternak.

Sementara, rohani kita cenderung naik ke atas menuju Pemiliknya, yaitu Zat Yang Tidak bisa diserupakan dengan makhluk-Nya. Dengan shalat, rohani kita didorong dengan kesadaran untuk meninggalkan tubuh dan mencapai orbit Ilahi. Dirikanlah shalat dengan kesadaran jiwa, yang memiliki potensi ruh, karena inilah yang dipanggil Allah dan dimasukkan ke golongan hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya.
Read More ..
Edited by EXz
Visit Original Post Islamic2 Template